Tuesday, June 7, 2011

Di antara desakan dalam kereta

Naik KRL Ekonomi ternyata bisa menyenangkan juga.. Meskipun bagi beberapa orang, mereka lebih menyukai naik KRL Ekonomi AC atau Express karena lebih aman, lebih cepat sampai, dan tidak terganggu dengan lalu lalang pedagang (asalkan jadwal kereta tidak ada gangguan )

Namun di lain sisi, justru hal-hal itulah yang seringkali membuatku tersenyum kecil diantara ‘riuhnya’ desakan penumpang ketika berada di KRL Ekonomi..

Contohnya saja seperti promosi ‘kreatif’ para pedagang untuk menjajakan barang dagangannya yang tak jarang dibumbui dengan kata-kata lucu…

*******
Waktu itu, aku sedang menuju bogor. Dari belasan penjual yang lalu lalang di belakang punggungku, ada seorang penjual yang tiba-tiba menarik telingaku...

"Selamatkan Indonesia. Tanah Air Indonesia sedang terancam bahaya. Bahaya yang lebih besar dari penyakit demam berdarah, lebih berbahaya daripada pornografi…” kurang lebih begitulah kata si bapak penjual berulang kali. Seketika dahiku berkerut mencoba menangkap maksudnya..

“…bahaya tikus sedang merajalela. Gara-gara tikus, Indonesia jadi bobrok.. Indonesia gak maju-maju gara-gara tikus. Krisis pangan gara-gara tikus. Tabung gas meledak gara-gara digigitin tikus. Waspadalah… bla bla bla” Aku lupa bagaimana persisnya kata-kata bapak penjual itu, dan akupun masih bingung sebenarnya dia jualan apa sih??

Sampai akhirnya dia berkata lantang “…makanya cepat basmi tikus-tikus .. cukup dengan Rp. 5.000 maka gak akan ada lagi tikus-tikus yang mengganggu…” oalaaah.. jualan obat tikus toh.

*******

Suatu ketika juga pernah, waktu itu kereta sangat penuh dan aku hampir tak bisa bergerak. Pedagang pun tetap gigih lalu lalang menjajakan dagangannya yang tentunya membuat ruang makin sempit.

Suara pengamen pun terdengar silih berganti, dan tak lama kemudian terdengar suara anak kecil merengek-rengek meminta belas kasih..

“…pak, bu, kakak, tolong donk kasih seratus, dua ratus, seikhlasnya…”

Suaranya yang keras dan agak serak cukup terdengar, tapi aku tak bisa melihat sosoknya karena posisiku yang lumayan terpojok.

“… om kasihan donk om, seratus dua ratus gak papa…” dia rupanya sedang merengek ke seorang bapak-bapak yang berdiri gak jauh dari belakangku.

lalu tiba-tiba si anak itu berkata, “…ayolah om, masak gak kasian… saya sudah tiga hari gak makan…” dengan suaranya yang cukup keras, dan spontan semua penumpang di dalam satu gerbong dengan kompak langsung menyahut, “…oooooooooooh (nada prihatin)” dan setelah itu semuanya langsung tertawa.

Namun setelah itu entah kemana si anak tadi, karena tiba-tiba sudah tak terdengar lagi rengekannya.

*******

Lalu, bagaimana dengan anda? adakah kisah yang lain?
Selamat Berkereta.. :D

No comments:

Post a Comment

You May Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...