Monday, November 18, 2013

Menelusuri Goa dari Jaman Belanda hingga Jepang

Mendaki Dago hingga Maribaya (Bagian 3)
(baca: Bagian 1 | 2)

Saatnya belajar Sejarah!

Pintu masuk utara, berukuran paling besar dan dulunya merupakan pintu utama
Goa Jepang - Letaknya tidak jauh, sekitar 200-300 m dari gerbang masuk Tahura. Goa Jepang di Tahura ini merupakan salah satu dari sekian goa yang dibangun oleh bangsa kita secara paksa (Romusa) ketika dijajah oleh Jepang.

Pintu masuk selatan
Pada dasarnya goa ini berbentuk huruf U dengan 4 lorong dan 2 ventilasi udara. Menurut guide yang mengantar kami menelusuri goa (dan beberapa sumber), goa ini dulunya digunakan sebagai markas militer Jepang untuk tempat menyimpan logistik perang. Seluruh permukaan goa mulai lantai, dinding, dan langit-langit dilapisi oleh batu cadas hitam. Sayang kamera kami tidak memiliki flash sehingga tidak dapat mengabadikan kondisi di dalam goa.

Salah satu mulut ventilasi goa Jepang
Goa Belanda - Jaraknya kurang lebih 30 menit (berjalan kaki) dari Goa Jepang. Goa ini dibangun pada tahun 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). PLTA ini merupakan yang pertama di Indonesia namun tanpa sebab yang jelas, PLTA ini tidak berfungsi. Pada tahun 1918, terowongan ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Hal ini dikarenakan dulu perbukitan Dago Pakar ini sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasinya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung.

Goa Belanda
Menjelang Perang Dunia ke II pada awal tahun 1941 kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok sepanjang 144 meter dan lebar 1,8 meter dibangunlah jaringan goa sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk se-tinggi 3,20 meter, luas pelataran yang dipakai goa seluas 0,6 hektar dan luas seluruh goa berikut lorong nya adalah 548 meter.

Gua atau Goa? :)
Selain untuk kegiatan militer, bangunan goa ini digunakan untuk stasiun radio telekomunikasi Belanda, karena stasiun radio yang ada di Gunung Malabar terbuka dari udara, tidak mungkin dilindungi dan dipertahankan dari serangan udara.

Note: Untuk memasuki Goa, disewakan senter seharga Rp. 5000,-/buah sedangkan jasa guide berkisar antara Rp. 10.000 - 25.000,-

Link terkait: http://tahuradjuanda.jabarprov.go.id/

selanjutnya..

2 comments:

  1. kereen Put... suka nulis sejarah yaa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak :) sekarang jadi lebih tertarik dengan sejarah ;)

      Delete

You May Also Like

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...