Menelusuri Gua dari Jaman Belanda hingga Jepang

Mendaki Dago hingga Maribaya (Bagian 3)
(baca: Bagian 1 | 2)

Saatnya belajar Sejarah!

Pintu masuk utara, berukuran paling besar dan dulunya merupakan pintu utama

Gua Jepang - Letaknya tidak jauh, sekitar 200-300 m dari gerbang masuk Tahura. Gua Jepang di Tahura ini merupakan salah satu dari sekian gua yang dibangun oleh bangsa kita secara paksa (Romusa) ketika dijajah oleh Jepang.

Pintu masuk selatan

Pada dasarnya gua ini berbentuk huruf U dengan 4 lorong dan 2 ventilasi udara. Menurut guide yang mengantar kami menelusuri gua (dan beberapa sumber), gua ini dulunya digunakan sebagai markas militer Jepang untuk tempat menyimpan logistik perang. Seluruh permukaan gua mulai lantai, dinding, dan langit-langit dilapisi oleh batu cadas hitam. Sayang kamera kami tidak memiliki flash sehingga tidak dapat mengabadikan kondisi di dalam gua.

Salah satu mulut ventilasi gua Jepang

Gua Belanda - Jaraknya kurang lebih 30 menit (berjalan kaki) dari Gua Jepang. Gua ini dibangun pada tahun 1906 sebagai terowongan penyadapan aliran sungai Ci Kapundung untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA). PLTA ini merupakan yang pertama di Indonesia namun tanpa sebab yang jelas, PLTA ini tidak berfungsi. Pada tahun 1918, terowongan ini beralih fungsi untuk kepentingan militer dengan penambahan beberapa ruang di sayap kiri dan kanan terowongan utama. Hal ini dikarenakan dulu perbukitan Dago Pakar ini sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasinya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung.

Gua Belanda

Menjelang Perang Dunia ke II pada awal tahun 1941 kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok sepanjang 144 meter dan lebar 1,8 meter dibangunlah jaringan gua sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk se-tinggi 3,20 meter, luas pelataran yang dipakai gua seluas 0,6 hektar dan luas seluruh goa berikut lorong nya adalah 548 meter.

Gua atau Goa ya?

Selain untuk kegiatan militer, bangunan gua ini digunakan untuk stasiun radio telekomunikasi Belanda, karena stasiun radio yang ada di Gunung Malabar terbuka dari udara, tidak mungkin dilindungi dan dipertahankan dari serangan udara.

Note: Untuk memasuki Gua, disewakan senter seharga Rp. 5000,-/buah sedangkan jasa guide berkisar antara Rp. 10.000 - 25.000,-

Link terkait: http://tahuradjuanda.jabarprov.go.id/

selanjutnya..

Comments

  1. kereen Put... suka nulis sejarah yaa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih mbak :) sekarang jadi lebih tertarik dengan sejarah ;)

      Delete

Post a Comment

Popular Posts